Sunday, August 17, 2008

Jangan tanya orang lain tanya pada dirimu!

Semakin kujalani hidupku, semakin banyak rintangan yang kuhdapai, lalu aku bertanya pada orang lain ada apa dengan hidupku, mereka  tak dapat menjawabnya, mereka malah menatapku dengan aneh…Ya..aneh karena orang sepertiku yang sudah berumur di atas tiga puluh lima tahun malah menanyakan dirinya pada orang lain, apa namanya itu kalau bukan ngawur!
    Lalu tetap aku berjalan meneruskan sisa perjalanan yang entah sampai kapan berakhir, walau aku sebenarnya tak ingin berakhir. Hingga tiba di suatu tempat yang amat asing, di mana orang-orang yang kutemui hanya membicarakan tentang hiruk-pikuk dunianya, tentang bagaiamana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, lalu tentang bagaimana menajdi orang sempurna. aku terdiam heran melihat orang-orang bergaya metropolitan, bergaya sosialita murahan, mengenakan pakaian yang harganya sama dengan uang masuk sekolah menengah pertama di  sekolah negeri, itu hanya untuk satu malam..gila!
    Kemudian orang-orang itu membicarakan tentang kawan-kawannya yang punya kesenangan yang sama, sama-sama berpolitik, sama-sama berekonomi mapan, sama-sama berkekuatan memecat bawahannya, sama-sama penyiar di sebuah radio atau sama-sama penyiar di sebuah televisi. dan banyak kesamaan-kesamaan lainnya.
    Aku terdiam menatapi diriku, melihat keadaan diriku, bercermin. Apa yang kulihat sekarang kulit di bagian bawah mataku semakin menua, mataku semakin menuju ke warna kelabu, rambut hitamku kini berubah dua warna, inikah tanda-tanda berakhirnya sebuah kehidupan? Aku masih punya banyak waktu untuk menatanya kembali, aku harus berubah, bukankah tak ada kehidupan lain di dunia selain sekarang ini? jadi sudah sepantasnya aku melepaskan semuanya sekarang.
    Kemblilah kepada dirimu sendiri kataku kemudian sambil berkaca dan memegang wajahku.
    Hiduplah di atas kakimu sendiri, berjuanglah! karena hidup masih panjang.
   
   
Posted by Bhina at 11:20:37 | Permalink | No Comments »

Saturday, August 2, 2008

Bintang Jatuh

Aku menjalani hidup seperti sebuah bintang jatuh ke bumi, jatuhnya karena sunnah Tuhan, bukan karena kemaun seorang ahli astronomi atau karena adanya gerombolan film armagedon yang bisa menggergaji benda langit sehingga dapat menyelamatkan dunia dari jatuhnya benda tersebut ke bumi.
Seperti Bintang jatuh meluncur dengan cepat melintasi beberapa lapisan angkasa, sama denganku yang sudah melintasi beberapa tahap dan menjalani beberapa lintasan peritiwa, dari satu kejadian ke kejadian yang lain, membuatku bisa menghadapi dimana akan jatuhnya bintangku, meski kecepatan jatuhnya tak dapat kukendalikan.
Satu lintasan peristiwa dapat membuatku bisa terbahak-bahak menertawakan kehidupanku, yang malu karena tidak bisa membuka jendela kaca mobil mercedes temanku yang super kaya, kehidupan orang lain merasa dirinya paling kaya dan modern dengan kehidupannya, padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghidupkan printer di depan meja kerjanya. atau kehidupan makhluk lain? seperti hantu, karena aku pernah bersua dengan makhluk Tuhan paling menyeramkan ini. Di lain lintasan lain aku akan menjadi cengeng, secengeng lagu-lagu tahun delapan puluhan. Aku pun mengalami yang namanya penderitaan, meski tak semenderita anak-anak yang kurang gizi, atau orang-orang yang kehilangan rumahnya karena kena digusur akibat menempati lahan terlarang, kebakaran, kebanjiran atau bencana lainnya. Terakhir aku pun mengalami kesenangan, kebahagian yang luar biasa kunikmati, meski aku hanya mendapatkan sebuah ember untuk menggiling sampah dari sebuah kuis di radio, atau aku mendapat rejeki yang sangat tak terduga sama sekali, dan kalian tahu bagaimana aku mendapat rejeki?…bahwa hanya karena aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah Tuhan berikan dan kunikmati……seperti bintang jatuh…..
……..

3 Agustus 2008

Posted by Bhina at 02:55:05 | Permalink | Comments (3)