Jangan tanya orang lain tanya pada dirimu!
Semakin kujalani hidupku, semakin banyak rintangan yang kuhdapai, lalu aku bertanya pada orang lain ada apa dengan hidupku, mereka tak dapat menjawabnya, mereka malah menatapku dengan aneh…Ya..aneh karena orang sepertiku yang sudah berumur di atas tiga puluh lima tahun malah menanyakan dirinya pada orang lain, apa namanya itu kalau bukan ngawur!
Lalu tetap aku berjalan meneruskan sisa perjalanan yang entah sampai kapan berakhir, walau aku sebenarnya tak ingin berakhir. Hingga tiba di suatu tempat yang amat asing, di mana orang-orang yang kutemui hanya membicarakan tentang hiruk-pikuk dunianya, tentang bagaiamana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, lalu tentang bagaimana menajdi orang sempurna. aku terdiam heran melihat orang-orang bergaya metropolitan, bergaya sosialita murahan, mengenakan pakaian yang harganya sama dengan uang masuk sekolah menengah pertama di sekolah negeri, itu hanya untuk satu malam..gila!
Kemudian orang-orang itu membicarakan tentang kawan-kawannya yang punya kesenangan yang sama, sama-sama berpolitik, sama-sama berekonomi mapan, sama-sama berkekuatan memecat bawahannya, sama-sama penyiar di sebuah radio atau sama-sama penyiar di sebuah televisi. dan banyak kesamaan-kesamaan lainnya.
Aku terdiam menatapi diriku, melihat keadaan diriku, bercermin. Apa yang kulihat sekarang kulit di bagian bawah mataku semakin menua, mataku semakin menuju ke warna kelabu, rambut hitamku kini berubah dua warna, inikah tanda-tanda berakhirnya sebuah kehidupan? Aku masih punya banyak waktu untuk menatanya kembali, aku harus berubah, bukankah tak ada kehidupan lain di dunia selain sekarang ini? jadi sudah sepantasnya aku melepaskan semuanya sekarang.
Kemblilah kepada dirimu sendiri kataku kemudian sambil berkaca dan memegang wajahku.
Hiduplah di atas kakimu sendiri, berjuanglah! karena hidup masih panjang.
Lalu tetap aku berjalan meneruskan sisa perjalanan yang entah sampai kapan berakhir, walau aku sebenarnya tak ingin berakhir. Hingga tiba di suatu tempat yang amat asing, di mana orang-orang yang kutemui hanya membicarakan tentang hiruk-pikuk dunianya, tentang bagaiamana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, lalu tentang bagaimana menajdi orang sempurna. aku terdiam heran melihat orang-orang bergaya metropolitan, bergaya sosialita murahan, mengenakan pakaian yang harganya sama dengan uang masuk sekolah menengah pertama di sekolah negeri, itu hanya untuk satu malam..gila!
Kemudian orang-orang itu membicarakan tentang kawan-kawannya yang punya kesenangan yang sama, sama-sama berpolitik, sama-sama berekonomi mapan, sama-sama berkekuatan memecat bawahannya, sama-sama penyiar di sebuah radio atau sama-sama penyiar di sebuah televisi. dan banyak kesamaan-kesamaan lainnya.
Aku terdiam menatapi diriku, melihat keadaan diriku, bercermin. Apa yang kulihat sekarang kulit di bagian bawah mataku semakin menua, mataku semakin menuju ke warna kelabu, rambut hitamku kini berubah dua warna, inikah tanda-tanda berakhirnya sebuah kehidupan? Aku masih punya banyak waktu untuk menatanya kembali, aku harus berubah, bukankah tak ada kehidupan lain di dunia selain sekarang ini? jadi sudah sepantasnya aku melepaskan semuanya sekarang.
Kemblilah kepada dirimu sendiri kataku kemudian sambil berkaca dan memegang wajahku.
Hiduplah di atas kakimu sendiri, berjuanglah! karena hidup masih panjang.